M. Syafiqil Umam, sosok yang akrab dipanggil Syafiq, adalah santri yang memiliki perjalanan akademis yang unik dan penuh inspirasi. Berbeda dengan santri pada umumnya, Syafiq telah menunjukkan minat besar pada keilmuan Islam sejak usia muda. Hal ini terbukti dari keputusannya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke pesantren setelah lulus dari sekolah dasar. Di usia yang relatif muda, Syafiq telah menapaki jalur keilmuan yang jarang ditempuh oleh santri lain seusianya.
Lahir di Desa Sebanen, Kalisat, Jember, Syafiq tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pencarian ilmunya. Orang tuanya, yang juga memiliki latar belakang pesantren, sangat mendorongnya untuk menempuh pendidikan agama. Mereka mengantarkannya ke Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono Jember, pesantren tempat abahnya dulu menimba ilmu. Di pesantren ini, di bawah asuhan alm. KH. Misbah Umar, Syafiq mulai mendalami berbagai disiplin ilmu Islam seperti tarikh, fiqh, tasawuf, dan teologi.
Langkah awal Syafiq di pesantren tersebut menandai perjalanan panjangnya dalam menuntut ilmu. Takdir kemudian membawanya ke jalan yang lebih besar, hingga akhirnya ia melanjutkan studinya ke luar negeri, tepatnya di International Islamic University Islamabad, Pakistan. Kini, Syafiq adalah mahasiswa pertama dari STIS Nurul Qarnain yang berhasil melanjutkan studi ke universitas kelas dunia, sesuatu yang tentunya membanggakan bagi almamaternya dan pesantren di sekitarnya.
Sebelum mencapai puncak karier akademisnya di Islamabad, Syafiq telah menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa Timur. Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat Madrasah Aliyah, Syafiq melanjutkan pendidikan tingginya di STIS Nurul Qarnain Jember, sebuah perguruan tinggi yang masih baru berdiri pada tahun 2019. Syafiq adalah salah satu mahasiswa angkatan pertama yang mengambil program studi Hukum Ekonomi Syariah (HES). Keputusan untuk menekuni hukum ekonomi syariah adalah bentuk keseriusan Syafiq dalam memperdalam ilmu-ilmu Islam yang relevan dengan tantangan zaman.

Namun, perjalanannya di STIS Nurul Qarnain tidak berlangsung lama. Pada tahun 2021, atas arahan dari gurunya dan kehausan akan ilmu yang lebih luas, Syafiq memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo. Di sana, ia menyelesaikan program studi yang sama, yakni Hukum Ekonomi Syariah, dalam waktu dua tahun. Di bawah bimbingan para kiai dan guru besar di Universitas Ibrahimy, Syafiq semakin mantap dalam memahami hukum-hukum syariah yang ia geluti sejak awal.
Tamat dari Universitas Ibrahimy, Syafiq tidak berhenti di situ. Semangat belajarnya semakin berkobar, dan tekadnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi terus tumbuh. Berkat dukungan dari guru-gurunya dan dorongan kuat dari keluarganya, Syafiq berhasil diterima di International Islamic University Islamabad untuk melanjutkan pendidikan magister. Ini adalah pencapaian besar, baik bagi dirinya maupun bagi komunitas pesantren di sekitarnya.
Kisah Syafiq adalah bukti bahwa santri bisa menembus batas-batas yang terlihat mustahil. Banyak santri yang merasa cukup dengan pendidikan di dalam negeri, namun Syafiq menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan tekad yang kuat, pendidikan tinggi di luar negeri bukanlah impian yang terlalu jauh. Baginya, pendidikan adalah jalan panjang yang harus terus ditempuh, bahkan hingga ke negeri seberang.
Apa yang dilakukan Syafiq menjadi contoh teladan bagi para santri di pesantren-pesantren lainnya. Bahwa tidak ada alasan untuk berhenti di tengah jalan. Syafiq mengajarkan bahwa mencari ilmu adalah proses tanpa akhir, di mana kita harus terus melangkah tanpa mengenal lelah. Seperti halnya dia yang berani melangkah ke Islamabad, para santri di seluruh pelosok Indonesia pun harus memiliki mimpi yang tinggi dan tekad yang kuat untuk mencapainya.
Santri di pesantren-pesantren sering kali dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan akses terhadap pendidikan modern. Namun, Syafiq membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan jika seseorang memiliki kemauan yang kuat. Dari pesantren kecil di Jember, ia mampu melangkah jauh hingga ke universitas internasional di Pakistan. Ini adalah pelajaran berharga bagi semua santri bahwa kesungguhan dalam menuntut ilmu akan selalu menemukan jalannya.
Perjalanan Syafiq ke Islamabad bukan hanya tentang prestasi akademis, tetapi juga tentang pengabdian kepada ilmu dan agama. Di sela-sela kesibukannya, Syafiq tetap menjaga khidmah kepada pesantren dan komunitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kita melangkah jauh dalam menuntut ilmu, kita tidak boleh melupakan akar dan tempat di mana kita berasal. Kesetiaan Syafiq terhadap pesantren dan gurunya adalah nilai penting yang harus diteladani oleh para santri lainnya.
Keberhasilan Syafiq juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi STIS Nurul Qarnain dan Universitas Ibrahimy Sukorejo. Bahwa lulusan-lulusan mereka mampu bersaing di kancah internasional dan terus membawa nama baik lembaga di mana mereka dibesarkan. Syafiq adalah bukti nyata bahwa pendidikan pesantren bisa membawa seseorang menuju pencapaian global.
Bagi para santri di STIS Nurul Qarnain dan pesantren lainnya, Syafiq adalah contoh nyata bahwa pendidikan harus terus dilanjutkan. Jangan pernah merasa cukup dengan pencapaian saat ini. Selalu ada peluang dan kesempatan untuk melangkah lebih jauh, asalkan ada usaha dan ketekunan. Syafiq adalah contoh teladan bagi generasi santri berikutnya yang ingin meraih mimpi-mimpi besar mereka.
Kini, Syafiq masih berjuang di Islamabad, dan perjalanannya belum selesai. Ia bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor, sebagai bentuk dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan agama. Semoga kisah inspiratif Syafiq ini terus memotivasi para santri di seluruh Indonesia untuk tidak pernah berhenti dalam menuntut ilmu. Keberhasilannya di panggung internasional adalah bukti bahwa santri Indonesia bisa bersaing dan berprestasi di tingkat dunia.(Si)