KKN Internasional STIS Nurul Qarnain Jember: Belajar Multikulturalisme di Balik Tradisi Tahlil Thailand

Thailand, 2 Agustus 2025 – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional yang dilaksanakan oleh mahasiswa STIS Nurul Qarnain Jember bukan sekadar praktik pengabdian masyarakat, melainkan juga menjadi momentum pembelajaran lintas budaya yang penuh makna. Salah satu pengalaman menarik datang dari seorang mahasiswa KKN dari STIS Nurul Qarnain Jember yang setiap hari berdampingan dengan salah satu komunitas Muslim Thailand sejak kedatangannya dari Indonesia.

Setelah mengajar, mahasiswa tersebut diajak oleh seorang sesepuh lokal menuju suatu tempat yang katanya berjarak sekitar 30 menit. Menariknya, dalam perjalanan, sang sesepuh menyebut kendaraan yang mereka tumpangi sebagai “kereta”—sebuah istilah unik yang berbeda dengan padanan Indonesia, yang menyebutnya “mobil”. “Saya sempat bingung, karena dalam konteks Indonesia, ‘kereta’ berarti kereta api,” tutur mahasiswa tersebut.

Sesampainya di lokasi, suasana yang mewah langsung menyambut mereka. Ternyata, tempat tersebut merupakan lokasi pelaksanaan tahlil. Namun yang membuat pengalaman ini semakin luar biasa adalah perbedaan mencolok antara tradisi tahlil di Indonesia dan Thailand.

Di Indonesia, tahlil biasanya dilakukan setelah waktu Setelah Asar, Maghrib atau Isya setiap harinya selama 7 hari pasca kematian dan secara kolektif oleh warga atau keluarga almarhum. Namun berbeda dengan di Thailand, tahlil tidak mengenal waktu khusus. Para keluarga atau masyarakat datang secara bergantian atau berkelompok dan langsung membaca tahlil secara mandiri tanpa menunggu waktu tertentu—bisa pagi, siang, atau malam.

Tradisi Tahlil di Thailand: Ringkas, Khidmat, dan Penuh Simbol

Menurut penuturan sang sesepuh, tradisi tahlil di Thailand umumnya hanya berlangsung sampai 100 hari pasca wafatnya seseorang (bukan 100 hari secara full) tapi kalau di Indonesia jika sampai 100 hari pasca metian almarhum diadakan lagi acara serupa dengan cara diundang untuk memperingati 100 hari. Adapun yang biasa “Ada yang satu hari, tiga hari, tujuh hari, bahkan 40 dan 100 hari. Tapi tidak ada sampai 1000 hari seperti di beberapa wilayah Indonesia,” jelasnya.

Adapun tata cara bacaan dan proses tidak jauh berbeda dengan tahlil yang ada di Indonesia hanya saja bacaan yang lebih singkat dibandingkan dengan di Thailand.

Lebih lanjut, cara penyajian makanan pun memiliki perbedaan mendasar. Jika di Indonesia jamuan sering kali dikemas dan dibawa pulang atau dimakan di tempat secara sederhana, maka di Thailand, sajian dilakukan dalam bentuk prasmanan, lengkap dengan makanan khas lokal dan suvenir.

Menu yang disediakan pun unik. Nasi dikemas dalam plastik khusus mirip nasi kukus, disajikan bersama lauk seperti ikan kering, daging sapi (disebut “lembu”), bihun, serta minuman lokal. Para tamu tidak hanya dipersilakan makan di tempat, tapi juga diberikan oleh-oleh berupa biskuit dan minuman ringan. Suasananya pun menyerupai resepsi pernikahan—penuh keramahan, terorganisir, dan sarat nilai kebersamaan.

Menjadi Jembatan Peradaban

Kegiatan KKN Internasional ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa STIS Nurul Qarnain Jember untuk tidak hanya menerapkan ilmu yang dimiliki, tetapi juga memahami keragaman tradisi Islam dalam konteks global.

“Melihat dan terlibat langsung bagaimana tahlil dipraktikkan di Thailand membuat saya sadar bahwa Islam itu sangat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan kultur lokal tanpa kehilangan substansi spiritualnya,” Badrul Munir mahasiswa STIS Nurul Qarnain itu penuh refleksi.

Kehadiran para mahasiswa KKN dari Indonesia ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Muslim Thailand. Mereka dianggap sebagai duta ilmu dan budaya yang menjembatani pemahaman dua bangsa serumpun, khususnya dalam hal tradisi keagamaan.

Pengalaman ini hanyalah salah satu dari banyak kisah yang dibawa oleh peserta KKN Internasional STIS Nurul Qarnain Jember. Di balik kegiatan mengajar dan berdakwah, tersimpan pelajaran besar tentang toleransi, kearifan lokal, dan pentingnya saling belajar antarbudaya. KKN tidak lagi sekadar rutinitas akademik, tetapi sebuah perjalanan spiritual dan intelektual lintas batas negara. BM