Mahsiswi KKN Posko 09 STIS Nurul Qarnain Lakukan Kunjungan ke Tanoker Ledokombo

KKN Posko 09 STIS Nurul Qarnain melakukan kunjungan ke Tanoker Ledokombo pada Ahad (03/08/2025). Kedatangan mahasiswi KKN yang didampingi oleh Ustaz Fathorrozi, S.Pd.I., M.Pd., ini disambut hangat oleh tuan rumah wisata egrang tersebut.

Tanoker bukan sebatas tempat wisata biasa, melainkan sanggar budaya pelestarian egrang dan tempat pengembangan kuliner serta kerajinan khas setempat. Nama Tanoker memiliki arti kepompong, yaitu tempat di mana seseorang bisa berkembang menjadi lebih baik.

Banyak dari wisatawan lokal maupun mancanegara yang melakukan riset di sana, baik dari ormas maupun mahasiswa mancanegara seperti Maroko, Australia dan negara lain. Selain keunikan tempat yang disuguhkan, Tanoker juga sebagai tempat untuk menambah ilmu dan pengembangan diri dalam literasi dan permainan egrang

Tanoker memiliki empat prinsip dalam perkembangannya, meliputi discovery, dream,delivery, dan destiny. Tanoker melihat potensi yang ada kemudian membuat ide darinya untuk dibuat produk yang bisa berlanjut dan berkembang di masa depan. Di sana kita diajak untuk mengubah diri menjadi lebih baik dengan menambah wawasan dan minat baca.

Dalam pertemuan bersama Dr. Ir. Suporahardjo, M.Si., atau yang sering disapa Pak Hang selaku Pembina Taman Wisata Tanoker, ia menyampaikan untuk melihat sesuatu bukan dari sisi masalah melainkan dari potensi yang dimiliki.

Ia juga memiliki keyakinan bahwa orang yang tinggi ilmunya pasti akan Allah naikkan derajatnya. Maka, ia pun mengajak mahasiswa untuk meningkatkan pola pikir dan menerapkannya dalam kehidupan sehingga ilmu yang didapat bukan hanya menjadi wacana.

“Tanoker mendorong manusia untuk menjadi pelajar, berprinsip bahwa semua orang bisa menjadi guru, baik orang tua, anak-anak, bahkan alam semesta. Di dunia ini sebenarnya tidak ada masalah, tergantung bagaimana cara kita beradaptasi dan mencoba mencari solusi,” jelas Pak Hang.

Ia juga memaparkan mengenai pentingnya komitmen ketika mencari ilmu dan meraih sesuatu. Menurutnya, dalam perjuangan 99,99% adalah kekecewaan sebelum meraih keberhasilan, yang terpenting jangan menyerah dan terus istikamah. Dalam hal itu, ia mengibaratkan seorang anak yang memukul batu dan berhasil menghancurkannya pada pukulan kesepuluh.

Di akhir pertemuan, ia menyarankan untuk tidak mengeluh dalam menghadapi masalah serta berusaha menjadi lebih baik, karena brand seseorang di mata orang lain berasal dari perilaku kita sendiri. (*)

Pewarta: Silfin Aisyah